Sabtu, 19 Desember 2009

Potensi Wisata Cianjur Belum Tertata Optimal

Potensi objek wisata di Kabupaten Cianjur cukup banyak, tersebar di berbagai daerah. Namun besarnya potensi tersebut belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Padahal jika mendapat sentuah tambahan bisa mengundang wisatawan lebih banyak lagi.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Cianjur Himam Haris, tidak memungkiri bahwa saat ini banyak potensi objek wisata, mulai daratan, perairan, dan pegunungan belum mendapat sentuhan. Objek wisata itu, baru sebatas potensi belum mendapat penanganan maupun penataan dengan kendala bervariasi.

"Memang kalau potensi banyak, tapi belum punya daya tarik karena belum tersentuh penataan. Tapi yang sudah menjadi objek wisata dan memberikan kontribusi pendapatan, baru empat lokasi yaitu Cikundul, Jayanti, Cibodas, dan Jangari," katanya.

Dikatakan saat ini pihaknya tengah melakukan inventarisasi, termasuk penataan kawasan yang sudah ada. Langkah itu dilakukan mengacu pada akan keluarnya anturan tentang standarisasi objek wisata yang akan dikeluarkan pusat. "Kami juga melihat masih ada objek wisata yang belum sesuai dengan sapta pesona, ini akan dilakukan penataan lagi," ujarnya.

Diakui Himam, kedala yang dihadapi dalam mengembangkan objek wisata cukup beragam. Mulai dari anggaran, hingga kondisi infrastruktur maupun fasilitas di lokasi. Demikian pula dengan infrastruktur pendukung lainnya menuju lokasi, seperti jalan.

Himam mengungkapkan, sedikitnya ada dua target potensi objek wisata yang akan dikembangkan, yaitu penataan wisata geografi dan Cilincing kebun cokelat. "Untuk wisata geografi kerja sama dengan Pemkot Bandung didukung Pemprov Jabar dengan kereta wisata targetnya bisa terealisasi 2010. Sedangkan objek wisata di Cilingcing - Kebun Cokelat di kawasan Jangari, baru ada investor yang minat dan masih kajian," jelasnya. (A-116/A-147)***

Sumber :
http://122.200.145.230/index.php?mib=news.detail&id=95936
2 September 2009

Pentingnya Menata Kembali Potensi Wisata Cianjur

Sektor pariwisata, tampaknya masih menjadi salah satu primadona untuk menyedot pendapatan daerah dari para wisatawan di wilayah manapun. Suatu wilayah akan lebih dikenal daripada wilayah lainnya, karena potensi pariwisatanya. Bahkan, tak jarang ada wisatawan yang rela merogoh kocek dalam-dalam hanya sekadar untuk menikmati liburan dan pemandangan yang terdapat di salah satu wilayah.

Tentunya, potensi-potensi pariwisata ini perlu didukung dengan penataan dan pengembangan di wilayah lokasi wisata bersangkutan. Artinya, sangat mustahil suatu lokasi wisata yang memiliki potensi dan nilai jual tinggi, tapi kawasannya sendiri terkesan kumuh, bahkan nyaris tak terurus sama sekali. Dapat dipastikan, kawasan wisata tersebut akan sepi pengujung.

Kondisi serupa nyaris terjadi di Kabupaten Cianjur. Beberapa objek wisata yang dinilai mempunyai nilai jual tinggi, tapi terkesan kumuh dan kotor. Sebut saja, objek wisata Calingcing di Kecamatan Ciranjang, atau juga kawasan wisata waduk Jangari, Cirata, Kecamatan Mande. Bahkan, penataan di sepanjang jalur menuju Kebun Raya Cibodas (KRC) pun dinilai terkesan kumuh dengan berdirinya sejumlah kios.
Memang, jika tak segera dilakukan penataan dan pengembangan kembali kawasan-kawasan tersebut, dapat dipastikan jumlah kunjungan wisatawan akan terus berkurang setiap tahunnya. Malahan, kondisi ini diperparah pula dengan mulai dibukanya tol Cipularang beberapa tahun lalu. Langsung maupun tidak langsung, kondisi ini dampaknya sangat dirasakan para pelaku usaha di Cianjur dan sekitarnya.

Betapa tidak, pasca dibukanya jalan tol tersebut, jumlah wisatawan yang berkunjung, terutama ke kawasan wisata Cipanas-Puncak, dinilai menurun drastis. Ini memang harus mulai disikapi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur untuk mengatur dan menyiasati agar sektor kepariwisataan dan para pelaku sektor usaha kecil dan menengah (UKM) kembali menggeliat. Ini tentunya diperlukan peran serta aktif aparatur pemerintahan dan masyarakat.

Sebagai contoh, kawasan wisata di Kabupaten Garut. Pemerintah setempat terus berupaya keras mendongkrak sektor pariwisatanya. Semisal, membangun kawasan Kam pung Sampireun yang bernuansa sangat natural. Imbasnya, tentu saja mendongkrak nilai pendapatan asli daerah (PAD), selain kesejahteraan masyarakat sekitar.
Lantas, bisakah Kabupaten Cianjur membuat site plan seperti itu?.

Tak ada yang tak mungkin. Semuanya bisa saja dilakukan. Namun, semua itu tergantung alokasi anggarannya. Sayang memang jika tak segera dilakukan penataan dan pengembangan objek wisata di Kabupaten Cianjur, mengingat potensi pariwisata yang dimiliki Kabupaten Cianjur jauh lebih banyak dan menjanjikan. Tak hanya kawasan wisata Cipanas. Tapi kita mempunyai potensi alam di kawasan Cianjur selatan yang dinilai masih alami.

Sekarang, tinggal bagaimana strategi dan konsep yang akan dibuat aparatur pemerintah setempat agar hal ini bisa terwujud, hingga akhirnya berdampak terhadap geliat sektor kepariwisataan di Kabupaten Cianjur. Sehingga, Kabupaten Cianjur yang makmur, subur, dan tur kamashyur, bisa dikenal sebagai salah satu wilayah di Jawa Barat atau bahkan di Indonesia, yang bisa memanfaatkan potensi alam dan pariwisatanya untuk menyejahterakan masyarakatnya dengan lebih cerdas, sehat, sejahtera, dan berakhlakul kharimah.

Sumber :
Benny Bastiandy
http://www.jurnalbogor.com/?p=31426
5 Juni 2009

Kepariwisataan Cianjur - Banyak Objek Wisata Menarik Kini Telantar

POTENSI kepariwisataan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sebetulnya sangat besar. Mulai dari wisata alam, laut, sampai wisata seni budaya, cukup tersedia dan memiliki nilai jual lumayan. Tapi, karena pemkab setempat terkesan setengah hati mengembangkannya, banyak objek wisata di daerah ini kini telantar.

Kepariwisataan alam, misalnya. Pemkab Cianjur selama ini hanya mengandalkan objek-objek wisata di Kawasan Puncak, yang memang telah menjadi daya tarik wisatawan sejak berpuluh tahun lalu, seperti Kebun Raya Cibodas, Wana Wisata Mandalangi, Taman Nasional Gede Pangrango, dan Taman Bunga Nusantara.

Di luar itu, masih berupa potensi. Contohnya Waduk Cirata. Danau buatan yang dibangun pada 1986 dan merendam ribuan hektare area pertanian, hutan, dan permukiman penduduk di sebagian wilayah Cianjur, Purwakarta, dan Bandung (Jawa Barat) itu awalnya memang dikenal masyarakat bukan saja sebagai bagian dari sebuah pembangkit listrik tanaga air (PLTA), tetapi juga sebagai lahan baru budi daya ikan air tawar dan objek wisata.

Sebagai objek wisata, Waduk Cirata menjadi tujuan alternatif masyarakat yang ingin berpiknik dengan ongkos relatif murah. Tak mengherankan, beberapa tempat yang kemudian dikenal sebagai objek wisata, sejak saat itu ramai dikunjungi masyarakat. Antara lain Jangari di Kecamatan Mande, Maleber di Kecamatan Cikalongkulon, dan Calincing di Kecamatan Ciranjang.

Tapi dalam perkembangannya, objek-objek wisata di Waduk Cirata "terkalahkan" oleh pesatnya budi daya ikan air tawar jaring apung, sehingga objek wisata seperti Jangari, Maleber, dan Calincing bergeser menjadi pelabuhan pendaratan dan pengangkutan produksi ikan jaring apung.

Hal itu terjadi karena pemkab kurang serius memanfaatkan objek-objek wisata tersebut. Atau lebih tepatnya, kehadiran fungsi pelabuhan di Jangari, Maleber, dan Calincing tidak diselaraskan dengan upaya penataan fungsi wisatanya. Wajar bila kunjungan wisatawan lokal ke objek-objek wisata itu tidak seramai ketika Cirata mulai terbentuk, kecuali memang bila di tempat-tempat itu ada pementasan orkes dangdut.

"Kalau sejak awal pemkab serius melakukan penataan, objek-objek wisata di Cirata sebetulnya bisa menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Sebab, lokasi objek-objek wisata itu relatif dekat dari ruas jalan protokol Jakarta-Bandung," kata Ketua Komisi III DPRD Cianjur, H Rudi Syahdiar SH, kepada Suara Karya, beberapa waktu lalu.

Hal serupa terjadi pada objek-objek wisata potensial lain, seperti objek wisata Pantai Samudera di wilayah Cianjur selatan, yang memiliki panorama alam cukup indah, khususnya Pantai Apra, Pantai Sereg, Karang Potong (ketiganya di Kecamatan Sindangbarang, sekitar 120 km ke arah selatan dari pusat Kota Cianjur) dan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun (sekitar 27 km ke arah timur dari Kota Sindangbarang). Tapi pemkab kurang serius mengembangkan objek-objek wisata yang sebetulnya banyak dikunjungi wisatawan lokal itu, kecuali Jayanti.

Memang Jayanti relatif mendapatan sentuhan penataan. Ini terutama karena Jayanti juga sebagai tempat pelelangan ikan (TPI), sehingga yang turut membenahi pelabuhan tradisional itu bukan semata Pemkab Cianjur, tetapi juga Pemprov Jabar.

"Kami berharap pemerintah tidak saja mengembangkan Jayanti sebagai pelabuhan, tapi juga sebagai objek wisata penting di Cianjur. Sehingga Jayanti bisa menjadi daerah tujuan wisata andalan, sekaligus menjadi pendorong termanfaatkannya potensi perikanan laut di pantai Cianjur selatan," ujar Rudi Syahdiar.

Tapi, untuk itu pun, lanjut anggota Fraksi Partai Golkar itu, pemerintah baik pemprov maupun pemkab harus lebih serius lagi membangun infrastrukturnya, khususnya jalan. Karena, salah satu penyebab lambatnya perkembangan objek wisata Pantai Jayanti dan objek wisata pantai lainnya di Cianjur selatan ialah buruknya infrastruktur tersebut.

"Masyarakat Bandung sebetulnya menyenangi objek wisata pantai. Tapi karena sarana dan prasarana transportasi ke Jayanti belum memadai, mereka enggan datang ke sana. Karena itu, ruas jalan Cidaun-Naringgul-Balegede, yang merupakan ruas jalan terdekat dari Bandung ke Jayanti, harus diperbaiki dan diperlebar," katanya. (Ar-Rasyid)

Sumber :
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=183851
8 Oktober 2007

Cianjur

Cianjur dikenal dan lekat dengan pameo ngaos, mamaos dan maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji sebagai salah satu pencerminan kegiatan keagamaan. Mamaos adalah pencerminan kehidupan budaya daerah dimana seni mamaos Tembang Sunda Cianjuran berbibit buit ( berasal )dari tatar Cianjur. Sedangkan maenpo adalah seni beladiri tempo dulu asli Cianjur yang sekarang lebih dikenal dengan seni beladiri Pencak Silat.

Luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 2.138.465 jiwa.

Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 52,00 %. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 23,00 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42,80 % disusul sektor perdagangan sekitar 24,62%.

Secara administratif Pemerintah kabupaten Cianjur terbagi dalam 32 Kecamatan, dengan batas-batas administratif :

Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.
Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.
Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

Secara geografis , Kabupaten Cianjur dapat dibedakan dalam tiga wilayah pembangunan yakni wilayah utara, tengah dan wilayah selatan.

Wilayah Utara
Meliputi 16 Kecamatan : Cianjur, Cilaku, Warungkondang,Gekbrong, Cibeber, Karangtengah, Sukaluyu, Ciranjang, Bojongpicung, Mande, Cikalongkulon, Cugenang , Sukaresmi, Cipanas, Pacet dan Haurwangi.

Wilayah Tengah
Meliputi 9 Kecamatan : Sukanagara, Takokak, Campaka, Campaka Mulya, Tanggeung, Pagelaran, Leles, Cijati dan Kadupandak.

Wilayah Selatan
Meliputi 7 Kecamatan : Cibinong, Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun , Naringgul, Cikadu dan Pasirkuda.

Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

Sebagai daerah agraris yang pembangunananya bertumpu pada sektor pertanian, kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah swa-sembada padi. Produksi padi pertahun sekitar 625.000 ton dan dari jumlah sebesar itu telah dikurangi kebutuhan konsumsi lokal dan benih, masih memperoleh surplus padi sekitar 40 %. Produksi pertanian padi terdapat hampir di seluruh wilayah Cianjur.

Kecuali di Kecamatan Pacet dan Sukanagara. Di kedua Kecamatan ini, didominasi oleh tanaman sayuran dan tanaman hias. Dari wilayah ini pula setiap hari belasan ton sayur mayur dipasok ke Jabotabek.

Pengembangan usaha perikanan air tawar dan laut di Kabupaten Cianjur cukup potensial. Baik untuk usaha berskala kecil maupun besar. Beberapa faktor pendukungnya adalah : jumlah penduduk yang relatif besar serta tersedianya lahan budi daya ikan air tawar dan ikan laut. Usaha pertambakan ikan dan penagkapan ikan laut memiliki peluang besar di wilayah Cianjur selatan, khususnya di sepanjang pantai Cidaun hingga Agrabinta. Di wilayah ini, mulai dirintis dan di kembangkan pertambakan budi daya udang. Sedangkan budi daya ikan tawar terbuka luas di cianjur utara dan cianjur tengah. Di wilayah ini terdapat budi daya ikan hias, pembenihan ikan, mina padi, kolam air deras dan keramba serta usaha jaring terapung di danau Cirata, yang sekaligus merupakan salah satu obyek wisata yang mulai berkembang.

Sementara itu , potensi perkebunan di Kabupaten Cianjur cukup besar dimana sekitar 19,4 % dari seluruh luas merupakan areal perkebunan . Selama in dikelola oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) seluas 10.709 hektar, Perkebunan Besar Swasta (PBS) sekitar 20.174 hektar dan Perkebunan Rakyat (PR) seluas 37.167 hektar. Peningkatan produksi perkebunan, terutama komoditi teh cukup baik. Produktivitas teh rakyat mampu mencapai antara 1.400 - 1.500 kg teh kering per hektar. Sedangkan yang di kelola oleh perkebunan besar rata-rata mencapai di atas 2.000 kg per hektar.

Sumber :
http://cianjurkab.go.id, dalam :
http://www.pesonaindonesia.info/cities-of-jawabarat/cianjur

Waduk Cirata : Meningkatkan Potensi Obyek Wisata Lokal

Waduk Cirata terbentuk dari adanya genangan air seluas 62km2 akibat pembangunan waduk yang membendung Sungai Citarum. Genangan waduk tersebut tersebar di 3 (tiga) kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Kabupaten Bandung. Genangan air terluas terdapat di Kabupaten Cianjur, yang kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata rekreasi berbasis air. Saat ini objek wisata tirta yang paling berkembang dan ramai dikunjungi wisatawan lokal di kawasan Waduk Cirata adalah Jangari dan Calingcing di Kabupaten Cianjur. Padahal selain kedua tempat tersebut, masih banyak daya tarik potensial lainnya yang belum dikembangkan, seperti bendungan dan teknologinya, wisata agro, dan ekowisata hutan. Lokasi yang strategis maupun daya tarik yang cukup beragam tadi nampaknya belum cukup untuk menjadikan objek wisata ini dikunjungi wisatawan non lokal, terlebih mancanegara.

Waduk Cirata terbentuk dari adanya genangan air seluas 62km2 akibat pembangunan waduk yang membendung Sungai Citarum. Genangan waduk tersebut tersebar di 3 (tiga) kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Kabupaten Bandung. Genangan air terluas terdapat di Kabupaten Cianjur, yang kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata rekreasi berbasis air. Saat ini objek wisata tirta yang paling berkembang dan ramai dikunjungi wisatawan lokal di kawasan Waduk Cirata adalah Jangari dan Calingcing di Kabupaten Cianjur. Padahal selain kedua tempat tersebut, masih banyak daya tarik potensial lainnya yang belum dikembangkan, seperti bendungan dan teknologinya, wisata agro, dan ekowisata hutan. Lokasi yang strategis maupun daya tarik yang cukup beragam tadi nampaknya belum cukup untuk menjadikan objek wisata ini dikunjungi wisatawan non lokal, terlebih mancanegara.


Potensi Objek dan Daya Tarik Wisata

Kawasan Waduk Cirata dengan luas 43.777,6 ha terdiri dari 37.577,6 ha wilayah daratan dan 6.200 ha wilayah perairan. Fungsi utama waduk sebagai pembangkit tenaga listrik, ternyata menimbulkan berbagai kegiatan ikutan yang berkembang di kawasan Cirata, termasuk pariwisata. Dengan memanfaatkan kondisi alam dan lingkungan air yang terbentuk di kawasan ini, potensi daya tarik wisata tersebut berkembang dan menarik wisatawan untuk berkunjung ke beberapa lokasi di kawasan Waduk Cirata.
Objek wisata Jangari yang terletak di Desa Bobojong, Kecamatan Mande yang berjarak + 17 km dari pusat kota Cianjur, memiliki luas sekitar 15 ha. Sedangkan Calingcing berlokasi di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, sekitar 20 km dari kota Cianjur, dengan luas sekitar 5 ha. Kedua lokasi tersebut sangat strategis karena berada pada titik pertemuan dua lintasan pintu masuk menuju wilayah pengembangan pariwisata Cirata yaitu dari arah Cianjur (Jakarta dan Bogor) serta Ciranjang (dari Bandung) yang memiliki potensi pasar wisatawan yang sangat besar. Untuk menuju ke Jangari terdapat rute angkutan umum dari pusat kota Cianjur. Aksesibilitas ke Calingcing tidak sebaik Jangari. Lokasi Calingcing lebih jauh dari pusat kota Cianjur dan belum ada angkutan umum menuju lokasi tersebut.

Di lokasi Jangari dan Calingcing wisatawan dapat menikmati rekreasi alam terbuka, dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan seperti melihat-lihat pemandangan genangan air waduk, berperahu, memancing atau hanya sekedar berjalan-jalan dan duduk–duduk bersama teman atau keluarga sambil menikmati makanan yang mereka bawa. Kegiatan berperahu mengelilingi waduk Cirata dikenai tarif sekitar Rp. 30.000,- untuk berperahu selama 2-3 jam. Atraksi yang dapat dinikmati oleh pengunjung pada saat berperahu mengelilingi waduk adalah melihat jaring terapung dan budidaya ikan sambil menikmati hidangan berupa ikan bakar/goreng yang disediakan oleh salah satu rumah makan terapung yang terdapat di lokasi tersebut. Namun saat ini, populasi jaring terapung yang cukup banyak terkesan hampir menutupi permukaan waduk, sehingga dapat mengurangi kenyamanan wisatawan/pengunjung pada saat melakukan pesiar, karena menghalangi pemandangan keseluruhan.

Fasilitas penunjang yang tersedia di lokasi Jangari diantaranya pelataran parkir yang cukup luas, namun sayangnya belum tertata dengan baik. Hal tersebut terlihat pada saat hari libur dengan jumlah pengunjung yang banyak, ruang parkir menjadi tidak teratur dan terkesan semrawut. Fasilitas lainnya yaitu toilet umum -namun kondisinya kurang bersih, demikian juga dengan kondsi lingkungan keseluruhan. Saung-saung yang terletak di sepanjang jalan di dekat pusat keramaian Jangari dapat disewa oleh pengunjung untuk duduk-duduk dan beristirahat.

Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan juga tersedia kios-kios dan warung-warung makanan yang menjual berbagai makanan dan minuman serta barang-barang dagangan lainnya. Selain warung, pedagang kaki lima terlihat cukup banyak menggelar dagangannya. Letak kios dan warung-warung tersebut saat ini belum tertata dengan baik, dan kurang menjaga kebersihan sekitarnya. Sebagian besar kios-kios tersebut terletak di tepi sempadan genangan, sehingga menghalangi pemandangan langsung ke bentangan waduk.
Untuk menambah daya tarik wisata di Jangari pada setiap hari libur/besar pihak pengelola menyediakan atraksi-atraksi kesenian tradisional maupun modern yang digemari oleh para pengunjung seperti jaipongan atau musik dangdut. Saat ini pengelolaan objek dan daya tarik wisata Jangari dan Calingcing dilaksanakan oleh Pemda Cianjur, mengingat kedua lokasi tersebut berada pada wilayah administrasi Kabupaten Cianjur. Objek wisata Calingcing tidak seramai dan belum berkembang seperti Jangari. Selain lokasinya lebih jauh dari jalan raya Cianjur, tempat ini juga tidak dilalui kendaraan umum. Fasilitas yang tersedia di Calingcingpun tidak selengkap dan sebanyak yang terdapat di Jangari, meskipun harga tiket masuk yang dikenakan ke pengunjung sama, yaitu Rp. 500,-/orang.

Selain Jangari dan Calingcing, lokasi lainnya relatif belum berkembang dan dikunjungi wisatawan. Padahal lokasi dimana dam site Cirata berada potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata pendidikan dan penelitian berbasis teknologi. Pihak pengelola waduk Cirata (BPWC) bahkan telah memiliki rencana pengembangan kawasan ini untuk menjadi resor wisata, namun pembangunannya terhambat masalah sumber daya.


Karakteristik Pengunjung

Jika dilihat dari kedatangan pengunjung di kawasan Waduk Cirata ini terlihat bahwa pengunjung sangat terkonsentrasi di objek wisata Jangari. Jumlah pengunjung objek wisata tersebut pada tahun 2001 adalah 17.516 orang (Dishubpar Kab. Cianjur, 2002). Jumlah ini sebenarnya mencakup pengunjung ke objek wisata Calingcing juga dan diperkirakan masih dibawah angka yang sesungguhnya karena banyaknya pengunjung yang tidak membeli karcis masuk. Pengunjung ke tempat lainnya di kawasan Waduk Cirata masih sangat terbatas -kalaupun ada jumlahnya sangat sedikit dan sproradis.
Dari hasil studi yang dilakukan Bappeda Jawa Barat di kawasan Waduk Cirata tahun 2002, wisatawan yang berkunjung ke Jangari berasal dari Cianjur (82,3%), Bandung (3,2%) dan dari Jawa Barat lainnya (14,5%). Sangat jarang ditemui pengunjung dari luar Jawa Barat, apalagi wisatawan mancanegara. Kelompok usia pengunjung adalah muda dewasa dari golongan pendapatan menengah bawah. Tidak tampak perbedaan menyolok antara persentase pengunjung pria maupun wanita. Secara umum karakteristik tersebut merupakan karakteristik pengunjung ke objek wisata rekreasi.

Berdasarkan karakteristik perjalanannya ternyata objek wisata Jangari ini adalah tujuan tunggal wisatawan. Hanya 9% yang juga mengunjungi objek wisata lainnya selain Jangari dalam kunjungan wisata tersebut. Yang cukup menarik adalah bahwa kunjungan untuk lebih dari yang keduakalinya memperlihatkan persentase yang cukup besar yaitu 61,5%. Lebih dari 90% yang berkunjung untuk yang keduakalinya ini berasal dari Cianjur.

Pengunjung umumnya menghabiskan waktu antara 3-5 jam di objek wisata ini, dengan kegiatan utama melihat-lihat panorama waduk (sight seeing). Kegiatan berperahu ternyata tidak banyak menarik pengunjung, diperkirakan juga karena harus mengeluarkan biaya lebih.

Hasil studi karakteristik tersebut memperlihatkan bahwa objek wisata Jangari saat ini baru merupakan konsumsi pengunjung lokal, yaitu dari Cianjur dan sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan di objek tersebut saat ini merupakan kegiatan rekreasi umum berbasis alam, khususnya air.


Objek Lokal yang Potensial

Potensi daya tarik yang dimiliki kawasan Waduk Cirata secara keseluruhan sebenarnya sangat beragam. Selain daya tarik wisata tirta yang menjadi objek wisata rekreasi paling berkembang saat ini, bendungan dengan teknologi pembangkit listrik di dalam perut bumi merupakan objek wisata pendidikan dan penelitian yang belum tergali. Demikian juga dengan potensi wisata agro selain perikanan jaring terapung, wisata alam hutan, maupun wisata budaya dan kesenian yang belum banyak dilirik.
Mengingat lokasi dan aksesibilitasnya yang sangat baik, objek wisata di kawasan ini sangat potensial untuk menarik wisatawan dari luar Cianjur. Keberadaan kawasan wisata Puncak, maupun jalur regional Jakarta-Cianjur-Bandung merupakan sumber wisnus maupun wisman yang potensial. Demikian juga dengan perkembangan jalur Purwakarta-Padalarang.

Luasnya kawasan dengan daya tarik yang beragam dan tersebar di kawasan Waduk Cirata menyebabkan pengembangan kepariwisataan perlu didistribusikan dengan tema-tema dan sasaran pasar yang berbeda-beda. Peningkatan kualitas produk mencakup kualitas daya tarik dan fasilitas penunjang di kawasan ini perlu dilakukan, sehingga diharapkan dapat menarik pangsa pasar wisatawan lain dari golongan menengah atas.

Mengembangkan suatu potensi objek dan daya tarik wisata, tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik yang dimiliki. Bahkan meskipun memiliki aksesibilitas yang baik tidak menjamin wisatawan akan datang dengan sendirinya. Pasar wisatawan yang tersegmentasi membutuhkan strategi dan pengelolaan kawasan yang berbeda jika kita ingin memperluas segmen pasar pengunjung. Demikian juga dengan program pemasaran dan promosi yang dilakukan perlu disesuaikan dengan target pasar wisatawan kita. Bukan tidak mungkin jika objek wisata berskala lokal pun bisa “go international”.

Sumber :
Ir. Ina Herliana Koswara, M.Sc.
Kelompok Penelitian dan Pengembangan Pariwisata
Institut Teknologi Bandung
http://www.terranet.or.id/tulisandetil.php?id=1405
10 Maret 2003

Profil Kabupaten Cianjur


Kabupaten Cianjur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Ibukotanya adalah Cianjur. Wilayahnya berbatasan dengan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta di sebelah utara, Samudera Hindia di sebelah selatan, Kabupaten Sukabumi di sebelah barat, serta Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut di sebelah timur. Secara administratif kabupaten ini terbagi menjadi 26 kecamatan dengan Cianjur sebagai ibukota kabupaten.

Sebagai salah satu lumbung padi di Jawa Barat, Cianjur identik dengan nama Pandan Wangi. Trademark yang kondang sejak tahu 1973 ini membawa Cianjur semakin harum namanya di pasaran beras lokal, nasional, maupun internasional. Padi Pandan Wangi sebagian besar dihasilkan di Kecamatan Warungkondang, juga di Kecamatan Cugenang dan Cibeber. Padi Pandan Wangi hanyalah sebagian kecil dari produksi padi Cianjur. Wilayah Cianjur Tengah misalnya, khususnya di Kecamatan Kadupandak dan Pagelaran, juga menjadi salah satu pusat produksi padi. Untuk komoditi lain selain padi terdapat juga hasil pertanian tanaman palawija, sayuran, buah, dan tanaman hias.
Di sektor industri, sebagai daerah agraris, Kabupaten ini berkeinginan menjadi salah satu pusat agrobisnis dan pariwisata di Jawa Barat. Dengan sumber daya manusia yang ada Cianjur mulai membuka pusat perdagangan pertanian. Kecamatan Cikalongkulon, misalnya, akan dijadikan pusat bisnis pisang, kemudian Pacet sebagai pusat bisnis hortikultura. Sementara di wilayah selatan akan dibangun pusat pengembangan ternak potong.

Letak setrategis sebagai lintasan Jakarta-Bogor-Sukabumi-Bandung membawa keberuntungan tersendiri bagi Cianjur.Tersedianya sarana dan prasarana transportasi dan perhubungan yang cukup memadai memberikan kemudahan dalam mendistribusikan dan mengembangkan akses pasar produk unggulan Kabupaten Cianjur.

Pertumbuhan pembangunan wilayah Cianjur Utara begitu pesat. Di kawasan Puncak sampai ke pusat Kota Cianjur, semakin menjamur rumah mewah sebagai second home masyarakat luar Cianjur, hotel, dan restoran. Di setiap musim liburan dan akhir pekan masyarakat dari luar membanjiri Cianjur. Banyaknya pendatang selaku konsumen, memacu kreativitas penduduk untuk berdagang hasil pertanian dan kerajinan tangan semisal manisan, taoco, dan lentera gentur.

Wilayah Cianjur Selatan juga cukup memiliki potensi di sektor pariwisata, salah satunya adalah pantai dengan panjang 75 kilometer yang masih asri. Keindahan alam perbukitan dengan hamparan kebun teh juga mewarnai pemandangan di kanan dan kiri jalan berliku-liku menuju wilayah selatan, tepatnya di Kecamatan Sukanagara dan Pagelaran.


Sumber Data:
Jawa Barat Dalam Angka 2007
(01-7-2007)
BPS Provinsi Jawa Barat
Jl. PHH Mustapa No. 43, Bandung 40124
Telp (022) 7272595, 7201696
Fax (022) 7213572

Sumber :
http://regionalinvestment.com/sipid/id/displayprofil.php?ia=3203